Home   Profil   Pelayanan   Nakhoda   Serba Serbi   Kontak
Home
Mailing List
Webmail
 
 
 

 Sejarah bahtera iman

 
 

SEKILAS TENTANG SEJARAH
GPIB Jemaat BAHTERA IMAN


Diperlukan waktu tidak kurang dari tiga tahun untuk mempersiapkan berdirinya jemaat GPIB “Bahtera Iman”. Secara garis besar, perjalanan persekutuan jemaat GPIB “Bahtera Iman” hingga memasuki usia yang ke dua, berproses menempuh tiga phase pergumulan, yaitu :
1. Phase Pergumulan Pembentukan Pos Pelayanan.
2. Phase Pergumulan Persiapan Pelembagaan dan Pembangunan Gedung Gereja.
3. Phase Pergumulan Menjadi Jemaat Yang Mandiri.

 

Phase Pergumulan Pembentukan Pos Pelayanan
Berawal dari keinginan dan kerinduan sebagian warga jemaat GPIB “Karunia”, khususnya yang bermukim di sektor pelayanan III, VIII, IX, X untuk mendirikan Pos Pelayanan mengingat gedung gereja yang berjarak cukup jauh. Tambahan lagi, pada saat itu jumlah KK yang terdaftar di keempat sektor tersebut sekitar 200 KK. Suatu jumlah yang cukup beralasan untuk membentuk Pos Pelayanan. Selanjutnya, pada tanggal 21 Agustus 1994 dibentuk Pos Pelayanan “Bukit Zaitun” di Bukit Nusa Indah, yang merupakan cikal bakal jemaat GPIB “Bahtera Iman”.
Respons jemaat atas pembentukan Pos Pelayanan ini sangat luar biasa, sehingga gedung POUK Nusa Indah yang digunakan sebagai tempat ibadah tidak dapat menampung seluruh jemaat pada Ibadah Minggu Gabungan setiap minggu I setiap bulan. Memperhatikan dinamika pertumbuhan jemaat di keempat sektor palayanan tersebut, Majelis jemaat GPIB “Karunia” dalam Program Kerja 1995 – 1996 menetapkan pembentukan Panitia Pelaksana Persiapan Bagian Jemaat (P3BJ), dengan tugas pokok :
1. Merealisasikan pengembangan Sektor Pelayanan III, XIII, IX, X menjadi Bagian Jemaat GPIB “Karunia”
2. Mempersiapkan pelembagaan Bagian Jemaat menjadi jemaat GPIB yang baru.



Phase Pergumulan Persiapan Pelembagaan dan Pembangunan Gedung Gereja
Seiring dengan perkembangan jemaat, kebutuhan akan ruangan ibadah yang lebih luas terasa semakin mendesak, maka pada 4 April 1996 Majelis Jemaat GPIB “Karunia” membentuk Panitia Pemabangunan Gedung Gereja Pos Pelayanan IX “Bukit Zaitun” dengan Surat Tugas No.039/MJK/IV/96/ST. Selanjutnya, pada tanggal 7 April 1996 bertepatan dengan perayaan Paskah diadakan “Peletakan Batu Pertama” oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB “Karunia”, Pdt. J.J. Tomaluweng.

Melengkapi Surat Tugas sebelumnya, pada tanggal 16 April 1996 Majelis Sinode GPIB menerbitkan SK No. 1096/96/MS/XIV/kpts tentang penetapan Panitia Pembangunan gedung gereja Pos Pelayanan IX “Bukit Zaitun” dan pada tanggal 9 Mei 1996 pembangunan fisik gedung dimulai. Menyadari akan beratnya beban tanggung jawab yang diemban Panitia Pembangunan Gedung Gereja mendasarkan seluruh kegiatan program kerjanya dengan berpegang pada Firman Tuhan yang terambil dari Mazmur 127 : 1a, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangun”.

Menjelang akhir masa tugasnya, B3PJ mengusulkan kepada PHMJ GPIB Karunia menyiapkan nama bagian jemaat dan kemudian muncul 3 nama yaitu Bahtera Kasih, Bahtera Iman dan Bahtera Hayat. Nama Bahtera Iman yang dipilih dengan pertimbangan bahwa gereja bagai sebuah bahtera yang ribuan warga jemaat dari bermacam kepelbagaian dalam mengarungi gelombang kehidupan berjemaat perlu menyandarkan keimannya pada Kristus Sang Kepala Gereja.

Melanjutkan tugas-tugas B3PJ yang telah berakhir masa baktinya, maka pada tanggal 24 Oktober 1996 dibentuk Pengurus Bajem Bahtera Iman berdasarkan SK No. 125/MKJ/X/kpts dengan tugas pokok mempersiapkan pelembagaan jemaat Bahtera Iman dan membantu Panitia Pembangunan Gedung Gereja dalam pembangunan fisik serta semua kelengkapan dokumen pendukungnya. Selanjutnya, dilakukan pemekaran sector menjadi 5 sektor (X, XI, XII, XIII dan XIV) dengan jumlah jemaat yang terdaftar sebanyak 231 KK terdiri atas 923 jiwa.

Melalui pergumulan, partisipasi dan dukungan seluruh warga jemaat, serta tentu saja campur tangan kuasa Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja yang melampaui segala bentuk kemustahilan, pembangunan fisik Gedung Gereja beserta seluruh perlengkapan dapat dipampangkan dalam waktu kurang lebih 1 (satu) tahun dengan total anggaran sebesar Rp. 600.000.000.- (Enam Ratus Juta Rupiah) selanjutnya pada tanggal 27 July 1997, Panitia Pelembagaan Jemaat Bahtera Iman secara resmi menetapkan pelembagaan Bahtera Iman sebagai jemaat yang dewasa dan mandiri.

Phase Menjadi Jemaat yang Mandiri
Memasuki usianya yang ke 2, jemaat GPIB “Bahtera Iman” terus berproses untuk menjadi jemaat yang semakin dewasa dan mandiri. Berkenaan dengan itu PHMJ telah menempuh sejumlah kebijakan antara lain pembenahan dan peningkatan kinerja organisasi kantor gereja, perumusan konsep system operasional organisasi gereja yang efisien, penigkatan kualitas pelayanan kepada jemaat, penjemaatan ……. Menjadi jemaat yang mandiri, penjemaatan pemahaman-pemahaman baru yang kontekstual tentang tujuan utama panggilan gereja yang adalah melayani melalui pelatihan- pelatihan dasar kepemimpinan kepada Gerakan Pemuda (GP) dan fungsinya ke 5 BPK, dan sejumlah kegiatan lain.

Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut diatas, serta kegiatan-kegiatan rutin pelajaran Gereja, ataupun kegiatan non-rutin yang dapat muncul saat membuat suasana kehidupan berjemaat terasa sangat dinamis dan terus bergerak, seolah-olah tiada kaki tangan kegiatan di GPIB Bahtera Iman.

Saat ini salah satu tantangan besar yang tengah digumuli seluruh warga jemaat yaitu pengadaan gedung pastori sebagai kelengkapan sarana penatalayanan Gereja.

Melalui program pengadaan pastori ini, setiap warga jemaat seakan tertantang untuk memperlihatkan sampai sejauh mana pemahamannya tentang menjadi bagian dari jemaat yang mandiri.
 

 

 

 

....kembali keatas

 
 

 
Home Profil Pelayanan Nakhoda Serba Serbi Kontak Mailing List Webmail
K O L - BI